Devina Aurellia mahasiswa Esmod Jakarta untuk penelitian “The Creative Exploration of Sculpting Techniques in Couture Design in Indonesia”

 1.  Eksplorasi Teknik & Proses Skulptural

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan teknik sculpting, dan bagaimana pendekatan dasarnya?

DS : Teknik membuat patung adalah suatu cara atau metode kerja untuk mengolah medium ekspresi patung seperti, tanah liat, kayu, batu medium lainnya sebagai perluasan eksplorasi kreatif patung untuk mewujudkan gagasan ke publik. 

 

Bagaimana teknik seperti memahat, mencetak, dan melapisi dapat berperan sebagai medium untuk mengungkapkan identitas, emosi, dan transformasi manusia?

DS : Pilihan untuk memilih memutuskan teknik atau metode kerja membuat patung adalah yang utama karena dia membentuk dan memberikan karakter pada  proses kerja kreatif seorang pematung. Setiap medium patung, seperti, tanah liat, kayu, batu, ogam, plastisine, karet, gypsum, semen plester, dan lain sebagainya, (untuk menambah pengetahuan kita tentang kaitan seni patung dan medium, perlu saya tambahkan bahwa perkembangan teknologi dan industri sangat erat kaitannya atau lebih tepat dikatakan sangat menginspirasi kemajuan eksplorasi teknik dalam ekspresi seni patung. Tentu dalam konteks medium setiap pematung sudah pasti punya kemampuan memahami karakter medium yang digunakan dan juga memahami setiap medium memiliki keunikannya dalam kualitas dan teknik pengolahannya. Membuat patung dengan medium tanah liat dan membentuknya menjadi massa yang diinginkan dilakukan melalui teknik mengurangi dan menambah, dengan medium kayu dan batu yang berlaku hanya tenik pengurangan massa saja.     

Di tahap inilah terjadi proses penemuan atau pembentukan identitas, pengolahan emosi, representasi pemikiran atau keberpihakan pada isu-isu tertentu dan aktualisasi kecenderungan mengolah elemen estetik menjadi ekspresi arstistk.  


Apa yang membuat teknik sculpting memiliki kekuatan simbolik yang khas—dan bagaimana pendekatan ini bisa memberi inspirasi pada bidang lain, seperti couture fashion?

DS : Teknik pembuatan patung hanya bisa memiliki kekuatan simbolik apabila proses kerja pembuatan patung dikeluarkan dari  fungsi material artinya tidak hanya terbatas sebagai metode kerja saja. Kalau kita memperhatikan bagaimana memaknai teknik pembuatan patung sebagai suatu produk representasi sosial, segera kita paham bahwa ketika proses pembuatannya patung dilakukan dalam konteks tradisi komunal, sebagai produk perangkat adat ritual, maka tidak bisa disangkal dan harus diyakini bahwa teknik pembuatan patung memiliki landasan kerja kreatif yang berbeda karena penciptaannya dilakukan untuk menjadi wahana ritual yang memiliki kekuatan simbolik - magis.  Nah kalau kita mencoba melihat potensi ritual ini dapat menjadi sumber inspirasi pada bidang lain seperti couture fashion, menurut saya ekspolorasi couture fashion sangat bisa dilakukan bahkan sangat menarik tantangannya karena dunia fashion juga sudah dipandang memiliki kekuatan politis dan kekuatan sosial.  

 

2. Materialitas & Ketidaksempurnaan dalam Ekspresi Bentuk

Bagaimana pandangan Anda tentang menggunakan material seperti tanah liat, plester, logam, atau bahan-bahan yang tidak biasa digunakan dapat di ubah menjadi suatu seni. Apa pertimbangan seseorang dalam memilih material yang cocok untuk digunakan?

DS : Preferensi dalam memilih dan menentukan medium dan teknik untuk mewujudkan karya, menurut saya harus dipandang sebagai hal yang bersifat subjektif tapi juga bisa bersifat objektif. Hubungan material dengan ketidaksempurnaan menurut saya sama halnya seperti kita sedang membicarakan human error fallacies. Artinya saya berpendapat bahwa mereka yang sdh mumpuni dan menguasai karakteristik medium dan teknik akan berhasil memberikan pengalaman baru bagi publik ya ketimbang menemukan hal-hal yg bersifat kegagalan konseptual.    



Dunia fashion seringkali menargetkan kesempurnaan bentuk atau hasil yang sempurna. Tapi dari sudut pandang Anda sebagai pematung, apakah elemen seperti retakan, tekstur kasar, atau bentuk tak simetris justru memiliki nilai dan makna yang lebih dalam?


DS : elemen visual tak akan pernah memiliki kekuatan atau daya atau menjadi tenaga ekspresi yang memukau dan memesona, kecuali semua elemen visual yang digunakan dalam rancangan fashion dilakukan dengan kemampuan yang baik dengan kepekaan yang intelektual tentang tubuh, tentang gerak, tentang struktur, dan harmonis. Hal-hal lain diluar kerangka ini adalah membawa semua landasan ini ke dalam konteks sosial. Ini adalah suatu tantangan yang bersifat eksploratif dan juga bisa bersifat perlawanan pada konsep deternimasi dan establishment.   

 


Apakah menurut Anda pendekatan terhadap “ketidaksempurnaan” ini juga relevan dalam desain busana—terutama dalam couture yang sangat detail, rapi, dan eksperimental?

DS : Dalam karya-karya keramik Jepang, “ketidaksempurnaan” itu dipandang sebagai nilai artistitk.

 

3. Keaslian, Identitas & Proses Pencarian

Dalam dunia seni dan desain yang kini sangat cepat dan dipengaruhi tren, bagaimana Anda menjaga keaslian, kejujuran, dan tetap menciptakan karya yang berasal dari dalam diri?

DS : Dalam dunia prifat keaslian, identitas dan kejujuran adalah suatu kualitas individu yang menjadi landasan dan pegangan hidup dan juga membentuk cara anda memandang masa depan. Di ruang publik, tiga hal diatas tadi adalah entitas yang memiliki kekuatan hukum yang dilindungi oleh Undang Undang HAM 

 

Seberapa penting proses pencarian jati diri dan pertumbuhan batin dalam menciptakan karya menurut Anda?

DS : Sangat penting, karena ini berkaitan dengan sikap etiks berkarya, sikap memandang fungsi sosial karya dan sikap keberpihakan dan kepedulian terhadap yang saudara-saudara setanah air yang direpresi oleh kekerasan dan kekuasaan negara dan juga peduli untuk melawan kekejaman dan pembantaian manusia yang dilakukan oleh kekuasaan politik yang semakin mengancam peradaban manusia yang semakin cenderung menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. 


Apakah ada satu karya Anda yang sangat personal dan mencerminkan perjalanan batin atau identitas Anda? Apa bentuk atau material yang membuatnya terasa sangat dekat? Apakah ada suatu pakaian yang mencerminkan hal atau perasaan yang sama?

DS : SOLIDARITY


4. Tradisi dan Eksperimen

Sebagai pematung yang tumbuh dalam kekayaan budaya Indonesia, bagaimana Anda melihat kemungkinan terjadinya dialog antara seni tradisional—seperti ukiran, simbol-simbol lokal, atau teknik kriya—dengan pendekatan avant-garde atau eksperimental di dunia seni, termasuk fashion couture?

DS : Sinergi antar masa lalu, hari ini dan masa depan sudah menjadi discourse politik, intelektual dan budaya.  Anda tinggal memilih dan menentukan posisi anda dimana?, Apakah anda memilih untuk memposisikan diri sebagai penggerak perubahan atau pelestari?


Fashion saat ini juga banyak mengeksplorasi bentuk dan struktur seperti patung. Menurut Anda, prinsip atau teknik sculpting apa yang paling mungkin diterapkan dalam desain fashion secara kreatif?

DS : Semua kemungkinan adalah keabsahan yang tak bisa dihentikan atau dihambat atau dibelenggu. Fashion dan seni patung adalah suatu eksplorasi visual tentang bentuk, tentang elemen-elemen visual yang ditemukan karena eksplorasi teknik. Bagaimana memaknai tantangan menjadi suatu identitas kerja kreatif fashion?


Bagaimana menurut Anda cara seniman dan desainer muda bisa bereksperimen dengan bentuk dan material tanpa kehilangan akar budaya mereka?

DS : Tetap semangat dan tetap kreatif.

Art is LOVE, Art is POWER, Creativity is a joy Forever

(dolorosa sinaga)


5. Koneksi Emosional & Penonton

Apakah yang membuat seseorang terhubung secara emosional dengan karya seni? Apakah kekuatan teknis atau justru narasi dan kejujuran bentuk yang lebih menyentuh hati?

DS :  Salah satu validasi seni yang sudah diakui sebagai nilai universal adalah kekuatan dan kemampuannya untuk menhubungkan antar individu, kelompok masyarakat, lembaga atau institusi, bangsa dan antar negara.  



Banyak seniman dan desainer muda saat ini tertarik pada karya yang mengekspresikan proses, kerentanan, dan transformasi diri. Menurut Anda, apakah pendekatan ini juga diterima oleh generasi yang lebih senior? Bagaimana Anda melihat perbedaan cara pandang antara generasi muda dan generasi sebelumnya terhadap nilai “ketidaksempurnaan” dalam karya seni?

DS : Saya tidak pernah takut berkarya dan tidak pernah memikirkan hal-hal yang belum terjadi atau berandai-andai tentang suatu hal yang tidak pada tempatnya untuk dijadikan bahan pembicaraan. Saya lebih memilih menjadi penggerak perubahan daripada memikirkan bagaimana pendapat generasi tua atau generasi muda, karena yang paling penting adalah pertanyaan besar apakah karya seni yang kau ciptakan dapat mendorong terjadinya dialog yang bermanfaat bagi perubahan dan membuka kepedulian orang untuk ikut peduli pada soal yang saya juangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ELLE Magazine

ELLE Magazine